Senin, 24 November 2014

Tingkatkan Nilai Tambah Raih Berkah Rp 92.4 Miliar

Tingkatkan Nilai Tambah Raih Berkah Rp 92.4 Miliar

Jakarta- Virus semangat meningkatkan produksi minyak dan gas (migas) sedang menjangkiti seluruh insan Pertamina khususnya yang berada di Direktorat Hulu (Dit. Hulu), baik yang bertugas di Kantor Pusat maupun di lapangan-lapangan produksi. Target produksi 2,2 juta barel oil equivalent per day(boepd) yang ditetapkan management pada 2025 mendatang membuat laskar migas yang berada di garis depan yaitu mereka yang bertugas di lapangan harus berfikir kreatif untuk mencapai target tersebut.
Sadar tantangan yang menunggu di depan, Pertamiana EP Asset 2 Prabumulih Field, terus berinovasi dalam usahanya menaikkan produksi migas. Contohnya dengan meningkatkan produksi gas 13 juta kaki kubik per hari (mmscfd) dan kapasitas handling gas hingh pressure (HP) dari 15 mmscfd menjadi 100 mmscfd dengan modifikasi fasilitas produksi di Stasiun Pengumpul Prabumulih Barat (SP PMB). Berdasarkan RKBOR 2015, pada struktur Prabumulih Barat akan dilakukan pemboran sebanyak 13 sumur hingga 2016 mendatang dengan forecast produksi gas sebesar 5 mmscfd untuk masing-masing sumur. “Padahal kapasitas manifold yang tersisa pada header kami hanya cukup untuk menampung 1 sumur,” kata Luthfi Hariz, Instrument Supervisor Field Prabumulih sekaligus ketua tim Proyek Kendali Mutu (PKM) PMB 007, lewat surat elektronik (6/11).
Menurut Luthfi, SP PMB meru­pakan salah satu stasiun pengumpul di Distrik I Prabumulih Field yang berfungsi untuk menampung hasil produksi minyak dan gas dari sumur-sumur di struktur Prabumulih Barat. Pada awalnya SP PMB dirancang dengan kapasitas fasilitas produksi gas sebesar 15 mmscfd. “Masalahnya saat ini kegiatan pemboran di struktur Prabumulih Barat sedang tinggi. Kondisi, ini menyebabkan produksi gas sumur-sumur HP struktur tersebut meningkat pesat, hingga mencapai 28 mmscfd,” jelas Luthfi.
Lebih lanjut Luthfi menambahkan, jika masalah ini tidak segera ditanggulangi maka akan terjadi bottleneck pada fasilitas produksi yang berpengaruh serius terhadap upaya peningkatan produksi. “Hal tersebut akan berakibat pada tindakan melakukan bean down, malah bisa lebih parah sampai penutupan beberapa sumur produksi,” imbuh Luthfi memberi ilustrasi bagaimana gawatnya situasi. Manakala situasi ini tidak segera diatasi maka loss produksi sebesar 13 mmscfd tidak terhindarkan. Dampak lain yang tidak kalah merugikan adalah potensi lossses yang ditaksir mencapai 65 mmscfd apabila ke 13 sumur yang akan dibor gagal dieksekusi.
Menyikapi problem serius yang akan muncul tersebut, Prabumulih Field melakukan beberpa langkah antisipatif, yakni (1) menambahkan kapasitas separasi dengan merelokasi fasilitas produksi idle di SKG Musi Barat dan SP Benuang Pendopo Field (stasiun pengumpul dengan status abandon) berupa 1 unit Separator HP, 1 unit Scrubber HP,dan 1 unit Separator LP; (2) menambah jumlah header manifold produksi sebanyak 16 jalur dengan merelokasi dan merekayasa header manifold idle yang ada di SP Benuang Pendopo Field.
Hasilnya, kapasitas handling gas HP SP PMB yang tadinya hanya 15 mmscfd melonjak menjadi 100 mmscfd. “Selain itu posisi beberapa sumur yang sebelumnya di-bean down akibat tidak mampu menampung gas HP dikembalikan posisinya sehingga kami memperoleh gain produksi gas sebesar 13 mmscfd dan kondensat 28 barel oil per day (bopd),” ungkap Luthfi. Proses pemisahan gas yang tadinya tidak standard setelah adanya penambahan fasilitas produksi menjadi lebih baik, sehingga gas venting tangki dapat berkurang dari 100% LEL menjadi 0% LEL, sekaligus mengeliminasi unsafe condition.
Manfaat lain dari selesainya proyek ini adalah potensi lossess sebesar 10 mmscfd dapat diatasi karena telah tersedianya fasilitas test sumur HP. “Sampai 12 November 2014 total produksi minyak kumulatif (ytd) Prabumulih Field sebesar 10.951 bopd dan gas berada pada level 169,47 mmscfd. Total value creationyang dihasilkan sejak 1 Juli s/d 12 November 2014 sebesar Rp.92.4 miliar,” tutup Luthfi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar